Biografi Pengasuh PPSQ Asy-Syadzili Putri

Malang terkenal dengan julukan “kota pendidikan” banyak para cendakiawan lahir dari kota yang satu ini, kota ini juga banyak melahirkan tokoh-tokoh agama yang telah berjasa menyebarkan syiar-syiar agama Islam di Indonesia.

Agus Hazimul Ahzab salah satunya, atau yang lebih familiar dengan Gus Hazim pada tanggal 12 September 1970. Dahulu Beliau nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras,Jombang dan meneruskan ke Pondok Pesantren Al-Falah,Ploso. Gus Hazim adalah sosok yang terkenal akan kecerdasannya dalam ilmu fiqih, beliau telah menuntut ilmu kurang lebih selama 11 tahun. Gus Hazim juga teman dekat dari Agus Abdul Mun’im Syadzili.Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau diminta pamannya untuk mengajar disalah satu pondok pesantren di Bangil.Hingga suatu ketika Gus Mun’im sebagai teman dekat Gus Hazim memperkenalkan adiknya yakni Ning Mufarikhatul Fikriyah (putri dari KH.Ahmad Syadzili Muhdlor dan Bunyai HJ. Rohmah Syadzili), dan akhirnya menikah pada tahun 2000.

Awalnya PPSQ Asy-Syadzili diasuh oleh Gus Mun’im, karena mendesaknya kondisi(semakin banyaknya santri) maka atas perintah Bunyai,Agus Hazim mengambil asuh PPSQ Asy-Syadzili 2 (putri) sedangkan Gus Mun’im lebih memfokuskan di PPSQ Asy-Syadzili 1 (putra). Gus Hazim dan Ning Muf mulai mengasuh PPSQ Asy-Syadzili pada tahun 2010, yang pada saat itu jumlah santri masih berkisar 50 orang.

Sebelumnya, PPSQ Asy-Syadzili bernama PPTQ (Pondok Pesantren Tarbiyah Tahfidzul Qur’an).Nama Asy-Syadzili adalah pemberian kyai dari Gus Hazim dan Gun Mun’im yakni Kyai Munif, kyai ketika mondok di Al-Falah dulu.Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman,pada tahun 2012 Asy-Syadzili semakin banyak dikenal oleh kalangan masyarakat mulai dari Pulau Jawa hingga luar jawa, dan semakin hari jumlah santri pun semakin meningkat.

Sebelum wafatnya KH. Ahmad Syadzili Muhdlor (pendiri PPSQ Asy-Syadzili), beliau berpesan pada pada putra putrinya untuk terus mencari ilmu, karena ilmu itu tidak ada habisnya. Maka dari itu,banyak dari putra putri beliau yang kini telah mendirikan pondok pesantren di berbagai daerah untuk meneruskan perjuangan Beliau dalam menyebarkan syiar-syiar agama Islam.

Selama mengasuh PPSQ Asy-Syadzili, Agus Hazimul Ahzab tidak hanya melalui jalan yang lurus. Beliau telah melalui banyak lika-liku dan banyak kendala yang beliau alami. Diantaranya, di tengah-tengah beliau mengasuh Asy-Syadzili beliau ditinggalkan oleh ibundanya. Namun beliau tetap tegar dan tidak melupakan kewajiban beliau dalam mendidik santri-santrinya. Dengan modal, santri-santri dididik demi melanjutkan misi dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.“Saya berharap agar santri Asy-Syadzili menjadi generasi unggulan yang dibanggakan oleh salaf-salaf kita dengan tetap mengedepankan akhlaqul karimah sebagaimana harusnya seorang santri yang mencari ilmu”,begitu dawuh Agus Hazimul Ahzab saat ditanya tentang harapan beliau untuk santri Asy-Syadzili.

Agus Hazim juga berpesan untuk santri Asy-Syadzili agar tetap semangat dalam belajar,terus berdo’a,melazimkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad, dan bermujahadah kepada Allah SWT.Beliau juga berkata”Ilmumu akan selamanya manfaat selama hatimu bersih dari penyakit hati”

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Listi berkata:

    Assalamualaikum wr.wb
    Mau tanya, untuk pendidikan penghafal Alquran bisa dimulai usia berapa?
    Dan apa bisa sekolah formal di pesantren
    Mohon infonya, trimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *